Ketika Copywriter Jadi Profesi dan Resiko Terbaru

Hidup adalah pilihan. Yup, tampaknya ini adalah salah satu motto yang kerap menggiring saya hingga hela napas di detik ini hingga detik ke depan. Mempunyai pilihan hidup berarti siap menuai resiko. Itulah yang tengah saya hadapi sekarang. Setelah menggeluti dunia kewartawanan selama lebih dari tiga tahun, toh tiba pada masanya saya meninggalkan profesi ini. Ya, tepatnya sekarang.

make-things-happen

Terhitung sejak Kamis (27/3/2008) saya sudah menempati kantor baru dimana profesi baru akan saya geluti: copywriting di sebuah agensi. Setelah mendapatkan pengalaman di ranah jurnalisme dan sempat memenangkan sebuah award penulisan berita dari salah satu operator, saya rasa sudah saatnya saya keluar dari “zona aman” yang selama ini telah mempertemukan saya dengan beragam peristiwa dan manusia.

Awalnya ada semacam keraguan menggantung di pilihan saya ini. Namun setelah yakin bahwa pilihan saya adalah benar, maka saya harus menjalaninya untuk saat ke depan. Apa yang saya geluti sekarang ini tidak lain karena ingin adanya perubahan. Saya ingin mencoba sesuatu yg baru—meski tidak terlepas dari kemampuan saya dalam bidang tulis-menulis—sekalipun itu tetap beresiko.

Saya enggan bicara mengenai perubahan dari nilai penghasilan. Tapi jika ditilik dari kemauan saya untuk berubah, yang paling utama adalah, saya ingin pola hidup yang teratur: pagi-pagi jalan ke kantor, pulang sore/malam, nonton tv sebentar, tidur. Berbeda dengan pola hidup sebelumnya dimana antara jam tidur, jam kerja, dan jam rekreasi sangat tidak menentu.

Awalnya mungkin ini mengasyikan, terutama di tempat media terakhir saya bekerja, dimana pola kerjanya sangat PNS (Pegawai Negeri Sipil) sekali; datang dan pulang semaunya yang pada akhirnya saya bakal ditimbun pekerjaan ketika deadline menjelang. Bahkan saya pernah tidur menjelang adzan subuh selama seminggu berturut-turut demi mengejar target deadline yang awalnya terabaikan.

Namun sekalipun begitu pola hidup yg pernah saya alami, bukan berarti menjadi indikator gaya hidup seorang jurnalis. Saya rasa itu tergantung dari medianya juga. Meski harus diakui seorang wartawan itu harus siap menjalani pola hidup “jungkir-balik” alias jam kerja yang tak beraturan, terutama mereka yang bekerja di harian.

Perubahan ini memang sebuah awal yang sedang berjalan. Meski harus diakui tampaknya cepat atau lambat saya bakal merindukan sebuah suasana peliputan. Karena bagaimanapun juga saya sangat mencintai dunia jurnalistik dan saya merasa beruntung sempat mencicipinya meskipun hanya beberapa tahun saja. Itu adalah bagian dari resiko pilihan saya: merindukan dunia jurnalistik.

*Disadur dari Planetmiring.com (31/3/2008), ketika saya coba bertaruh nasib sebagai copywriter dan akhirnya tidak berlangsung lama kembali lagi bekerja sebagai jurnalis hehehe….

Baca juga:

Copywriting vs Jurnalism, Mana yang Lebih Mengasyikan?

Author: chawir

Cuma seorang penulis biasa yang dikelilingi keluarga, teman, dan alam semesta yang luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *