Dibredel Karena Tulisan ‘Sensitif’ Pasca Reformasi

foto: T-Nation
foto: T-Nation

Setelah lulus SMA, entah kenapa saya yang terlalu muak dengan pelajaran matematika sampai enggan ikut UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Soalnya, apapun jurusan dan kampus negeri yang dituju, pasti matematika jadi mata pelajaran yang harus bagus biar lulus. Jadi, saya memutuskan buat nggak ikutan UMPTN karena telanjur apatis sama mata pelajaran matematika yang diujikan.

Akhirnya saya memilih kuliah di UI. Universitas Indonesia? Bukan. Maksudnya UIEU alias Universitas Indonesia Esa Unggul. Saya sengaja ambil jurusan Ilmu Komunikasi dengan perminatan Broadcasting karena paling banyak mata kuliah menulisnya dan cuma satu mata kuliah kalkulasi, yakni Statistik.

Di awal perkuliahan, seorang dosen terheran-heran dengan alasan saya memilih Broadcasting karena suka menulis, sementara hampir sebagian besar teman saya kebanyakan memilihnya karena pengen jadi penyiar, presenter, dan kameramen. Sebenarnya sih saya pengen banget kuliah di IISIP (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) yang terkenal banyak mencetak wartawan-wartawan jempolan. Tapiiii….kakak saya ada yang kuliah di sana. Bukan karena pengen bebas atau apa, cuma sejak dari SD sampai SMA saya dan kakak saya itu satu sekolahan. Masa iya di bangku kuliah juga harus satu kampus? Bosen banget kan, kesannya kok kayak kuliah minta ditemani.

Di kampus, saya mengaktifkan diri di kegiatan UKM Jurnalistik, karena pengen benar-bener jadi wartawan “resmi” bukan wartawan ilegal seperti yang saya lakukan di masa SMA. Di sini saya dapat banyak banget ilmu jurnalistik karena banyak workshop, bahkan saya juga berkenalan dengan teman-teman dari kampus lain dan membuat majalah gabungan, meski proyek ini nggak berjalan lama karena uang keanggotaan dibawa kabur sama salah satu pengurusnya.

Selain menerbitkan majalah bernama EMAS, UKM Jurnalistik juga mengelola mading yang letaknya persis di ruang kantin dalam kampus. Sayangnya, eksistensi UKM ini harus berakhir karena pihak BEM membekukannya tanpa alasan. Tapi jika ditilik ke belakang ada alasan politis tersendiri, karena saya pernah menyindir BEM kampus nggak pernah ikut demo menuntut penjarakan Soeharto setelah dia lengser dari jabatannya sebagai presiden yang kala itu jadi isu panas di kalangan demonstran.

Di dalam tulisan artikel itu, fungsi BEM saya anggap nggak lebih dari ajang nongkrong bersubsidi karena hampir nggak ada aksi kritis yang biasanya digalakkan mahasiswa pasca reformasi. Efek dari tulisan itu, beberapa artikel yang dipasang di mading sering dirobek pihak yang nggak bertanggung jawab. Ibaratnya eksistensi kami benar-benar dibredel pihak BEM. Akhirnya dengan terpaksa, saya yang saat itu jadi Wakil Ketua akhirnya dengan berbesar hati menonaktifkan UKM tersebut.

Author: chawir

Cuma seorang penulis biasa yang dikelilingi keluarga, teman, dan alam semesta yang luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *