Antara Cewek Perokok, Jodoh, dan Mario Teguh

foto: thumblr
foto: thumblr

Setelah membaca trit Kaskus tentang kontroversi Twitter Mario Teguh (saya singkat MT), kekhawatiran saya langsung hilang. Memangnya apa sih yang saya khawatirkan? Oke, memang saya harus akui, saya hampir tidak pernah menonton acara motivasinya di salah satu stasiun TV. Saya cuma mendengar beberapa kesan dari keluarga atau teman-teman saya yang menonton acara tersebut. Saya harus akui, dia memang motivator handal!

Begitu kontroversi status Twitter-nya yang memuat “# MTOF 6 : Wanita yang pas untuk teman pesta, clubbing, bergadang sampai pagi, chitchat yang snob, merokok, dan kadang mabuk – tidak mungkin direncanakan jadi istri”, mendulang protes di beberapa akun yang saya follow, saya hanya bisa mengusap dada tanda miris. Ya, akun-akun yang terdiri dari beberapa teman, artis, dan para pesohor lainnya, justru mengolok-ngolok MT.

Nah, ketika saya mengeluhkan status-status yang bermuatan menghina integritas Mario Teguh, kepada seorang teman, dia mengatakan, “Yah wajar lah, secara di Twitter itu banyak anak gaul yang suka dugem n mabok.” Dus, ternyata populasi para clubber tidak hanya merambah dunia nyata, mereka pun beranak-pinak di dunia maya, begitu batin saya.

Oke, sekarang kembali lagi kepada maksud dari status Twitter  MT. Benarkah para pria enggan atau harus berpikir seribu kali untuk memperistri cewek perokok, peminum, norak, dan hobi dugem? Kalo secara pribadi, saya jelas tidak menginginkan cewek yang kelak menjadi istri saya seperti itu. Pasalnya, saya bukan perokok, peminum, dan penikmat dunia malam–meskipun pekerjaan saya mengharuskan saya datang ke klub-klub malam. Dengan nilai ideal yang saya miliki tersebut, saya hanya tertarik pada perempuan baik-baik, tentunya yang datang dari lingkungan yang benar.

Apakah semua cewek perokok, peminum, dan doyan dugem, tidak ada yang baik? Ini memang tidak benar seluruhnya, begitu pula sebaliknya, cewek yang bukan perokok tidak selalu lebih baik dari cewek perokok.

Menurut saya, sebagian dari cewek perokok sangat mengasyikan untuk dijadikan teman. Tidak sedikit pula memiliki solidaritas tinggi. Cuma, kalau untuk dijadikan istri ya memang harus dipertimbangkan kembali, mengingat ada benturan ‘ideologis’ dalam diri saya dan cewek-cewek seperti itu. Kalaupun saya nantinya jatuh cinta dengan salah satu dari mereka, berarti tugas saya adalah ‘meluruskan’ mereka sesuai dengan nilai ideal saya.

Apakah saya egois? Sebagai bocoran buat para cewek, sebenarnya cowok itu adalah mahkluk yang culas dan licik. Saya harus akui itu. Jika kebanyakan dari mereka adalah orang brengsek, hanya sedikit dari mereka yang menerima cewek apa-adanya. Pada ujung-ujungnya, mereka atau saya tetap memilih perempuan baik-baik untuk dinikahi.

Saya punya seorang teman cewek. Dia cantik, seksi, moderen, perokok berat, dan doyan pulang malam–untuk dugem tentunya. Dia beberapa kali memiliki pacar. Tapi pada akhirnya hubungan itu berakhir dalam hitungan bulan. Saya pernah tidak sengaja mendengar keluhan dia tentang sosok cowok yang selalu datang silih-berganti ke pelukannya. “Cowok itu bajingan! Mereka cuma mau macarin gue, tidurin gue. Tapi kalo kawin tetep aja sama cewek baik-baik. Gue cuma dianggap tempat numpang lewat!”

Kemudian, dari sisi cowok, ada teman baik saya yang saya harus akui bahwa dia termasuk kategori bajingan. Dia mengaku telah meniduri beberapa cewek yang dikenalnya dari beberapa klub malam dan chatting. Kalaupun menjalin hubungan serius, itu hanya dilakukan dalam hitungan minggu bahkan bulan. Tapi, sebrengsek-brengseknya dia, justru cewek yang bakal dijadikan istri adalah orang baik-baik. Sosok orang biasa yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, bukan mereka yang doyan keluar malam.

Okelah, menurut saya pendapat ini terlalu subjektif dan hanya mengacu pada pengalaman pribadi. Tapi, saya percaya pada sebuah pepatah bijak yang mengatakan “selalu ada orang baik bagi orang yang baik”. Jadi sebenarnya, kalau memang mencari calon istri/suami yang baik, seseorang harus melihat tempat. Saya juga percaya dengan quote dalam film The Animal yang mengatakan “selalu ada sesuatu (pasangan) bagi sesuatu, sekalipun dia berasal dari binatang”.

Jadi, masalah jodoh  memang tidak memandang tempat dan siapa orangnya. Sesama perokok bisa menikahi pasangan yang juga perokok, begitupun peminum, dan clubber. Cuma saya kekurangan referensi kisah rumah tangga seperti apa yang mereka bina, karena beberapa teman yang ‘brengsek’ pada akhirnya menikahi pasangan yang bukan berasal dari lantai dansa klub malam.

Oh ya, saya ingin membagi link catatan Facebook pembicaraan MT dengan istrinya. Semoga hal ini bisa menjadi semacam pencerahan bagi mereka yang masih menuding MT tidak bijaksana dalam berpendapat.  Salam super!

*Artikel pernah diposting di blog Planetmiring.com (23/02/2010) silam. Tentunya sebelum MT tersandung kasus dengan anak kandungnya, Kiswinar.

Author: chawir

Cuma seorang penulis biasa yang dikelilingi keluarga, teman, dan alam semesta yang luar biasa.

2 thoughts

  1. benar juga om, ga semua cewek perokok dan suka mabuk itu punya sifat yang buruk
    namun alangkah baiknya kalau sudah menikah nanti mereka bisa di luruskan dalam arti, lebih bisa menjaga sikap sebagai cewek, bukankah itu akan lebih baik lagi?
    bener ndak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *