Penggemar Film Horor Cenderung Berperilaku Sadis?

foto: SAW
foto: SAW

Benarkah suatu sifat seseorang terwakili dari film favoritnya? Saya yakin pasti ada yang mengiyakan pertanyaan ini. Terkadang orang di sekitar kita masih memandang pecitraan diri seseorang terpancar dari apa kesukaannya. Kalo dari kajian ilmu psikologi, kesukaan seseorang terhadap warna tertentu dapat menggambarkan kepribadian seseorang. Tetapi kalo dari sisi film kesukaannya?

Saya adalah penggemar berat film-film horror. Bukan horror dalam arti sepanjang durasi saya dijejali ‘penampakan’ nggak penting, kayak film horror yang kebanyakan menampilkan hantu dengan rambut rebonding dan mata yang besar a la film horror Jepang. Saya menyukai film horror kategori gore, slasher, atau bisa dibilang film sadis dan penuh darah. Sejak di bangku SD saya udah akrab dengan film yang mempertontonkan mutilasi dan kanibalisme, kayak Canibal Holoclaust.

Efek dari kesukaan saya ini, banyak orang yang menganggap saya terobsesi dengan sadisme. Bahkan nggak sedikit yg menduga saya seorang sado-masochist. Contohnya, ketika saya mengirimkan SMS info Infaq kepada seorang teman, dia malah membalas “Beneran nih?”. Setelah saya balas “Iya”, dia kembali mengirim balasan yg cukup menggelitik saya, “Ya enggak yakin aja, secara sado mashocist kayak elo”.

Begitu pun ketika dunia perbioskopan dihebohkan film drama sedih macam The Notebook saya mengiyakan ajakan seorang teman buat nonton film ini. Tahu nggak kalimat apa yang meluncur? “Chan, film ini bukan buat elo kali. Tar elo tidur lagi. Secara, nggak ada yang mati dipotong-potong di film ini.”

Lucu lagi kalo saya nonton DVD di rumah. Begitu tau kalo saya nonton film gory, apalagi kalo menjelang tengah malam, nyokap sampai parno ngumpetin berbagai benda tajam di rumah. Katanya sih takut saya kesurupan. Waduh….

Emang sih, secara moral menonton film model gini bagi beberapa orang cukup mengkhawatirkan, karena ada anggapan bisa memicu prilaku agresif seseorang. Tapi, saya bukanlah orang yang senaif itu, gampang terpengaruh ilusi sinema. Saya cukup waras menganggap film-film horor yang saya tonton adalah hiburan semata, bukan insprasi saya untuk bertindak sadis.

Apalagi saya adalah org yg anti kekerasan, jadi kayaknya sesadis apapun film yang saya tonton nggak ada efeknya bagi kejiwaan saya. Kecuali rasa puas saya karena telah terhibur cerita yg menegangkan.

Roman, salah satu tokoh sutradara film horror dalam film Scream 3 mengatakan, “Apakah dengan saya berhenti membuat film horror, psikopat di jalanan akan pensiun?” Ucapan ini tentunya bisa jadi cerminan kalo sadisme sudah menjadi sisi gelap manusia dan menjadi bagian dari peradaban. Tanpa menonton film gory pun, kalo memang secara kejiwaan orangnya emang sadis ya bakal sadis.

Memang sih, ada juga kasus kekerasan yg terinspirasi dari sebuah film. Tapi itu semua kembali kepada isi otak si penontonnya bukan? Lagian, modus saya jadi psikopat apaan sih? Saya tinggal di keluarga besar sederhana yang bahagia dan humoris. Masa sih saya bisa sekalap Michael Myers di film Halloween yang tega membunuh keluarganya sendiri? Hampir nggak ada latar belakang apapun yang bisa mendorong saya jadi seorang psikopat.

Terus mengenai anggapan sado-masochist, wah enggak banget. Setahu saya, orang yang memiliki perilaku ini cenderung menganalogikan sebuah rasa sakit sebagai rangsangan seksual. Kalo saya, dicubit aja kesakitan, nggak horny. Buktinya waktu jahitan usus buntu saya dibuka, saya menjerit “Aduh!” bukan “Oh yeeesss”. Jadi saya bukan sado-mashocist dong? Hahahaha….

Mungkin nggak orang banyak tau, kalo sebenarnya film-film jenis ini cukup menginspirasi saya buat bertahan hidup karena tokoh protagonisnya selalu digambarkan menderita dan berada di bawah tekanan. Pada awalnya, mereka adalah karakter-karakter yang digambarkan lemah, bukan idola dari lingkungannya, tapi berubah jadi pahlawan ketika mendapatkan teror dari seorang pembunuh berantai. Selain itu, di film jenis ini juga banyak teori-teori mengenai kejiwaan seorang pelaku kejahatan. Jadi, kita bisa mengantisipasi modus kejahatan seorang psikopat.

So, sesadis apapun film yang saya tonton itu cuma sebuah sensasi hiburan belaka, bukan materi doktrin yang mempengaruhi kejiwaan saya.  Percaya deh, film horor ada manfaatnya kok. Yuk, jangan ragu menontonnya!

Author: chawir

Cuma seorang penulis biasa yang dikelilingi keluarga, teman, dan alam semesta yang luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *