Relawan yang Tak Rela, Fenomena Aneh di Dunia Maya

red hands with heart, vector

Secara harfiah, relawan itu diambil dari kata rela yang artinya melakukan sesuatu tanpa pamrih. Apa jadinya jika seorang relawan justru melakukan sebuah perbuatan mulia tapi ada pamrih? Pamrih di sini bukan dalam artian mengharapkan uang, tetapi pengakuan.

Jujur saja, di berbagai platform social media saya berteman dengan beberapa teman relawan dan aktivis dari berbagai yayasan dan institusi. Saya pun tergoda untuk mengikuti beberapa di antaranya sebagai pengisi waktu senggang. Cuma belakangan saya justru merasa tidak nyaman setelah mengenal sebagian dari mereka.

Sebagi catatan, postingan ini bukan ingin mengeneralisasi kalangan relawan, tapi apa yang dialami saya secara pribadi membuktikan tidak semua relawan ingin melakukan aksi mulianya tanpa pamrih. Seperti yang saya sebut di paragraf pertama, ini bukan masalah uang tapi lebih ke pengakuan.

Pengakuan seperti apa sih? Jadi begini. Rupanya ada beberapa relawan yang saya kenal justru sangat haus akan pengakuan: ingin diakui sebagai relawan, ingin diakui sebagai orang yang mulia, dan ingin diakui lebih baik dari mereka yang bukan relawan.

Di Facebook, ketika nge-share sebuah artikel atau postingan mengenai kesusahan orang lain atau musibah, mereka menggunakan kata-kata yang bisa dibilang sinis, seperti “ayo jangan diam saja, bantu mereka” atau lebih parahnya lagi ada juga yang menggunakan kata-kata lebih pahit seperti “situ manusia? yuk dibantu sesamanya yang sedang kesusahan ini”.

Dari postingan semacam itu mereka seolah ingin mengikrarkan bahwa perbuatannya lebih mulia dari kebanyakan pengguna Facebook sehingga menggunakan kata-kata yang seolah menyindir. Padahal tidak semua pengguna Facebook tidak semulia mereka. Ada kok yang rajin membantu sesamanya tapi tidak punya banyak waktu untuk memposting aktivitas mulianya itu di social media.

Ketika bergabung dengan komunitas relawan, lingkungan di dalamnya tidak kalah ‘mengerikan’. Beberapa dari mereka yang saya kenal sepertinya kurang paham dengan arti relawan sesungguhnya. Relawan itu sejatinya bukan pekerjaan utama. Saya yakin banyak relawan yang memiliki pekerjaan utama dan menempatkan aksi relanya itu sebagai inisiatif pribadi. Herannya, bagi relawan yang merasa dirinya paling aktif justru lebih banyak ‘menindas’ mereka yang kurang aktif dengan kata-kata yang terbilang setajam silet.

Misalnya saja, dalam aksi donasi di sebuah daerah pedalaman, si A tidak bisa ikut serta karena ada pekerjaan kantor yang tidak bisa ditinggalkan. Nah, di sini si A langsung dibombardir kata-kata sentilan terkait pekerjaannya, seperti “kapan lagi bisa menolong orang lain?” atau lebih sadis lagi “rejeki sih bisa dicari kapan aja, tapi kalo menolong orang kan belum tentu bisa kayak sekarang”. Alih-alih ingin menymbangkan waktu senggangnya dengan menolong sesama, si A justru seperti dihina-dina ketika tidak bisa berpartisipasi pada suatu aksi.

Hal ini tentu saja membuat batin si A terintimidasi dan merasa tidak enak karena lebih mengedepankan pekerjaan kantornya. Padahal, kantornya itu adalah ladang uang baginya untuk menghidupi anak istrinya. Aneh kan, ketika menafkahi anak dan istri justru dianggap sebagai sebuah ‘pembangkangan’?

Bukan tidak mungkin, booming social media tampaknya mulai mengubah relawan sebagai aksi pencitraan. Bisa dibilang, sedikit kebaikan yng dilakukan sebisa mungkin harus diposting demi mendapatkan pengakuan sebagai relawan. Postingan yang seharusnya menginspirasi justru malah berbalik jadi menyebalkan karena penggunaan kata-kata yang menyinyir, seolah-seolah mereka yang bukan relawan bukanlah orang yang mulia.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada mereka yang sudah rela membagi waktunya untuk menolong sesama, saya rasa fenomena ‘relawan social media’ ini kurang lebih mirip dengan ‘pencinta alam social media’ yang selalu rajin memposting aktivitas traveling dan hiking ke berbagai akun social media sekedar memuaskan hasrat narsismenya, sementara urusan menjaga alamnya belakangan. Kalo sudah begini, tentu saja yang dirugikan adalah relawan sejati yang melakukan aksi sukarela tanpa berharap pengakuan dan publisitas di sana-sini.

Sebagai penutup, saya cuma mau bilang kebaikan itu datangnya tanpa harus dipancing dengan aksi tidak baik. Saya sendiri bergabung jadi relawan justru karena postingan-postingan positif dan inspiratif, bukan karena sindiran-sindiran. Yuk, menolong sesama tanpa harus menekan orang lain. Selamat Hari Relawan Internasional!

Author: chawir

Cuma seorang penulis biasa yang dikelilingi keluarga, teman, dan alam semesta yang luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *