Review Hacksaw Ridge: Film Perang yang Siap ‘Berperang’ di Ajang Oscar

Saya memang bukan penggemar film perang. Tapi, berhubung Hacksaw Ridge adalah film buatan Mel Gibson, jadilah gue luangkan waktu buat nonton.

Keberanian Desmond Doss di Hacksaw Ridge keren banget!
Keberanian Desmond Doss di Hacksaw Ridge keren banget!

Film dengan embel-embel based on true story memang trennya belum surut. Bahkan tiap menjelang Academy Awards, film-film berkonsep seperti ini selalu ada setiap tahunnya dan lagi-lagi masuk nominasi bahkan dapat Piala Oscar.

Hacksaw Ridge adalah satu dari sekian banyak film based on true story yang siap bertaruh di bursa Oscar. Saya berani memprediksi, kalo aja malam ini Academy Awards digelar, udah dipastikan bakal bawa pulang banyak Piala Oscar.

Apa sih yang bikin film ini begitu layak masuk dan menang Oscar? Pertama sih udah pasti alur ceritanya yang rapih banget, saya dibikin nggak bingung mengenai apa maunya dan bakal jadi seperti apa si Desmond Doss yang jadi tokoh sentralnya. Semua mengalir dengan enak, tanpa membuat kepala pusing harus terombang-ambing adegan flashback dan dialog-dialog puitis.

Nggak cuma menampilkan Perang Dunia II secara gamblang dengan tingkat kesadisan tinggi, nuansa drama Hacksaw Ridge juga dapat banget: memilukan, penuh romansa, tragis, dan inspiratif. Bisa dibilang ini merupakan film yang paling beremosi yang saya tonton tahun ini.

Akting Andrew Garfield di Hacksaw Ridge nggak terbantahkan kerennya.
Akting Andrew Garfield di Hacksaw Ridge nggak terbantahkan kerennya.

Saya nggak nyangka Andrew Garfield benar-benar bisa membawakan sosok Desmond Doss yang pemalu, penuh cinta, lemah, dan baik hati dengan sempurna. Dia bisa banget membawa penontonnya ke suasana hati si Desmond, kayak pas pertama kali ketemu Dorothy Schutte (Teresa Palmer), marah ketika hari pernikahannya digagalkan komandannya, sampai ketulusan ketika menolong teman-temannya yang terluka akibat perang.

Ya, memang sih saya kadang merasa ada sedikit unsur Peter Parker dari gaya bicaranya. Entahlah, mungkin mulut yang bergetar tiap dia bicara penuh emosi udah jadi karakter yang susah diubah. Bisa jadi karena sosok itu udah kadung melekat banget. Yang pasti, perannya sebagai Desmond Doss udah pas banget. Yuk, tepuk tangan buat yang udah berhasil casting dia!

Jadi ceritanya si Desmond ini penganut Kristen Adven yang taat banget. Saking taatnya dia nggak mau megang senjata, karena menurutnya membunuh itu adalah perbuatan dosa, sekalipun itu dalam peperangan. Soalnya, semasa kecil dia pernah nyaris membunuh kakaknya karena bercanda yang kelewatan. Aneh banget kan, masa jadi tentara nggak mau megang senjata?

Desmond tetep keukeuh banget kalo dia daftar jadi tentara cuma mau menolong orang, bukan buat membunuh. Bisa ditebak, dia di-bully abis-abisan, nggak cuma sama temen-temen satu baraknya aja, komandan-komandan dia juga meremehkan. Tapi sebuah peristiwa maut di Hacksaw mengubah itu semua, dia justru membuktikan bahwa tanpa bersenjata pun bisa berguna di medan perang.

Salah satu adegan romantis Hacksaw Ridge, nggak menye-menye tapi berkesan.
Salah satu adegan romantis Hacksaw Ridge, nggak menye-menye tapi berkesan.

Nggak cuma pembuktian akting Andrew aja, Hacksaw Ridge juga jadi ajang comeback yang keren bagi Mel Gibson setelah absen bikin film selama 10 tahun terakhir setelah Apocalypto yang fenomenal itu. Sekalipun dikucilkan Hollywood gara-gara sikapnya yang temperamen dan dianggap rasis, dia membuktikan bahwa dirinya masih pantas berkarya.

Seiring makin dekatnya ajang Academy Awards, pastinya makin banyak film-film bagus yang bakal diputar di bioskop. Tapi saya masih tetap yakin Hacksaw Ridge akan mencuri beberapa kategori di Academy Awards. Ya, setidaknya pas review ini dibuat, udah ada 3 nomimasi Golden Globe yang udah didapatkan, yakni kategori Best Motion Picture – Drama, Best Performance by an Acton in a Motion Picture (Andrew Garfield), dan Best Director – Motion Picture (Mel Gibson). Jadi, mumpung masih tayang di bioskop, kayaknya film ini sayang banget dilewatkan.

Skor: 8,5/10

 

Author: chawir

Cuma seorang penulis biasa yang dikelilingi keluarga, teman, dan alam semesta yang luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *