Inilah Alasan Kenapa Perjalanan ke Bandung Lebih Mengasyikan dengan Naik Kereta Api

Penampakan Argo Parahyangan, kereta api jalur Jakarta-Bandung (foto: Tribunnews)

Sejak tol Cipularang diresmikan, perjalanan ke Bandung dari Jakarta semakin mudah dan cepat. Sejak itulah banyak orang yang lebih memilih menggunakan jasa travel untuk Bandung melalui rute ini karena mampu memangkas perjalanan lebih cepat dari kereta api.

Sayangnya, dengan pertumbuhan kendaraan pribadi yang tinggi dan akses jalan yang tidak semakin bertambah, tentu aja Tol Cipularang bukan lagi jadi favorit saya secara pribadi. Pasalnya, jika dulu ke Bandung menghabiskan waktu sekitar 2,5 jam, sekarang bisa 3 -4 jam lebih lho. Apalagi kalo sedang macet-macetnya, bisa lebih dari 5 jam pula.

Sementara naik kereta api dari dulu waktu tempuhnya nggak berubah, cuma 3,5 jam aja. Harganya juga masih relatif lebih murah, yakni Rp 80 ribu buat kelas ekonomi Argo Parahyangan yang menurut saya kenyamanannya masih lebih baik dari pada kendaraan travel di harga yang sama.

Sebenarnya bukan masalah lebih murah atau lebih cepat sih. Penggunaan kereta api dari Jakarta ke Bandung ternyata punya banyak kelebihan-kelebihan yang nggak bakalan dijumpai di mobil travel. Apalagi kalo bukan pemandangan sepanjang perjalanan yang fantastis!

Sebagai orang Jakarta, saya tentu aja udah bosan bukan main sama yang namanya kemacetan. Nah, dari pada perjalanan ke Bandung yang dijumpai itu-itu lagi, mendingan naik kereta api. Toh, pada akhirnya waktu tempuhnya sama aja kayak naik mobil travel.

Jadi, sebelum memutuskan naik kereta api, ada hal-hal yang mesti dipertimbangkan nih. Salah satunya posisi duduk setidaknya dekat jendela biar bisa menonton atraksi alam lebih puas tanpa terhalang penampakan penumpang di kursi sebelah. Kedua, pastikan baterai smartphone atau kamera dalam kondisi full biar bisa memotret pemandangan yang keren di luar sana.

Begitu berangkat dari Stasiun Gambir, sepanjang perjalanan mata saya dimanjakan dengan pemandangan bukit-bukit yang permai dan perumahan penduduk yang kelihatan nyaman dengan suasana desa yang tentram. Hamparan sawah, langit, dan jalan raya di ujung Tol Cipularang juga menambah nilai fantastis pemandangan.

Serasa naik helikopter karena bisa melihat Tol Cipularang dari atas bukit.

 

Jembatan Tol Cipularang terlihat gamblang.

 

Salah satu pemandangan hamparan sawah yang memanjakan mata.

Nah, perjalanan balik ke Jakarta juga nggak kalah kerennya. Menurut saya perjalanan ini lebih banyak menawarkan sensasi pemandangan yang indah daripada dari Jakarta. Dengan mata telanjang, saya bisa melihat hamparan sawah yang lebih eksotis, jurang-jurang yang mencekam tapi indah, sungai yang deras, sampai jembatan kereta api yang nggak terpakai. Setidaknya, dari Stasiun Bandung hingga Bekasi jadi perjalanan yang begitu menyenangkan mata.

Serasa ingin turun dari kereta dan berjalan kaki ke sana.

 

Salah satu keindahan bukit yang sulit ditolak mata.

Sayangnya nggak semua pemandangan indah itu bisa saya tangkap sempurna karena ada pantulan lampu dalam kereta di kaca. Selain itu, karena saya sibuk membalas pesan WhatsApp dan menjawab panggilan telepon, pemandangan seindah bekas jembatan keretan api terlewatkan begitu saja dari tangkapan kamera smartphone LG G4 yang saya gunakan.

Yang pasti, pemandangan sepanjang perjalanan Jakarta-Bandung atau sebaliknya, membuktikan bawah Indonesia memang negeri yang keren. Banyak spot-spot ‘ajaib’ yang membuat saya pengen bangen turun dari kereta dan menikmati sensasinya.

Sayangnya, pengalaman yang sama nggak bakalan bisa didapatkan dari perjalanan malam. Soalnya, hampir 80% pemandangan hanya berlatarkan kegelapan malam yang begitu pekat nyaris tak terlihat. Bagaimanapun juga, untuk waktu tempuh perjalanan tetap konsisten: 3,5 jam saja.

Jadi, sebelum memutuskan buat naik kereta api ke Bandung atau balik ke Jakarta, pastikan jangan pernah membalas pesan atau telpon yang masuk.  Bahkan, kalo perlu jangan sampai tertidur deh, karena nyesel banget kalo nggak bisa menangkap momen-momen indah itu dengan kamera atau smartphone.

Author: chawir

Cuma seorang penulis biasa yang dikelilingi keluarga, teman, dan alam semesta yang luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *