3 Hal yang Mengecewakan dari Kota Bandung

Masih seputar kunjungan saya ke Bandung sekitar pertengahan Desember lalu, sebenarnya ada beberapa hal menarik dari kota ini, di samping makanan dan spot-spot perkotaan yang masih bermuatan historis. Tapi harus disadari bahwa tidak ada satu kota pun di dunia ini yang sempurna, begitupun dengan Paris van Java ini. 

Kota Bandung di pagi hari (foto: dokumen pribadi)

Di balik daya tariknya yang begitu besar, ternyata kota yang dipimpin oleh Wali Kota Ridwan Kamil ini masih menyimpan permasalahan yang udah lama tidak saya jumpai di Jakarta. Apa aja sih?

1. Pengamen yang Memaksa

Bagi orang Jakarta mungkin udah nggak asing lagi dengan pengamen yang menggunakan modus gertak semacam “Saya habis keluar dari penjara dan butuh makan. Uang seribu atau dua ribu mungkin tidak berarti lagi buat bapak atau ibu, daripada saya mengulangi kejahatan saya lagi.” Tapi itu pernah terjadi sekitar 3-5 tahun lalu dan hanya di bus atau angkutan umum aja.

Di Bandung, ternyata modus tersebut masih digunakan pengamen dan anak-anak jalanan setempat. Lebih parahnya lagi, mereka menebar aksi pemaksaan ini di beberapa tempat makan kaki lima. Saya menjadi target dari aksi ini ketika makan di sebuah warung bakso di Kebon Kawung, dekat stasiun kereta api dan kawasan Pasar Baru.

Sebagai orang yang udah “kenyang” dengan modus ini di Jakarta, saya tentunya nggak mau kasih sepeser pun uang saya buat mereka. Ngapain? Dikiranya saya mempan kali diancam kayak gitu? Belum tahu kali ya, ibukota lebih kejam dari pada ibu tiri?

2. Merokok di Dalam Angkot

Beberapa tahun belakangan, saya memang getol menggunakan moda transportasi publik daripada kendaraan pribadi. Selama beberapa tahun itu pula saya nggak pernah menjumpai orang yang berani merokok di dalam angkot, bahkan Kopaja atau Metromini sekalipun.

Yang mengejutkan, citra anak muda Bandung yang menurut saya lebih santun justru dicoreng dengan aksi merokok di dalam angkot. Bahkan, di salah satu angkot yang saya tumpangi, ada dua anak muda yang dengan santainya merokok di dekat pintu, sementara ada seorang ibu yang sedang menggendong anaknya yang masih balita.

3. Geng Motor yang Meresahkan

Oke, Jakarta memang juga punya geng motor dan suka ngetrek di beberapa jalan. Tapi, geng motor di Bandung ternyata punya reputasi yang lebih dari sekedar kebut-kebutan. Mereka nggak segan-segan menodong dan melukai orang yang kebetulan berada di dekatnya.

Ketika pulang habis nonton dari Paris Van Java alias PVJ, saya naik Gojek menuju ke hotel di sekitar Kebon Kawung. Yang bikin saya melongo, driver Gojek itu berkali-kali meminta saya buat jangan terlalu sering pulang malam, terutama jika dari PVJ. Menurutnya, malam hari jadi modus geng motor buat memangsa korban. Jadi dia menyarankan saya nggak keluyuran di atas jam 9 malam.

Baca juga:

Inilah Alasan Kenapa Perjalanan ke Bandung Lebih Mengasyikan dengan Naik Kereta Api

Itulah kira-kira tiga hal yang mengecewakan saya ketika berada di Bandung. Memang ini bersifat subjektif (namanya juga ngeblog kan?) dan bisa jadi adalah sebuah kebetulan karena nggak semua orang mengalami apa yang saya alami di atas. Tapi bagaimana pun juga, bukan berarti Kota Kembang ini adalah kota yang nggak menarik untuk dikunjungi.

Harus saya akui, banyak hal-hal bisa dinikmati di sini. Yang pasti, saya nggak bakalan kapok datang ke Bandung. Tentunya sambil berharap hal yang mengecewakan itu bisa segera dibenahi dan dibasmi dari kota yang cantik ini.

 

Author: chawir

Cuma seorang penulis biasa yang dikelilingi keluarga, teman, dan alam semesta yang luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *