Review Rogue One: A Star Wars Story: Sekedar Menggembirakan Fanboy

Kurang fanatik sama film Star Wars? Sebaiknya jangan pilih Rogue One: A Star Wars Story sebagai film untuk mengisi rasa lelah. Alih-alih pengen seru-seruan malah ketiduran.

Sungguh, fenomena ini terjadi ketika saya menonton film ini sebanyak dua kali. Pertama, ketika di Cinemaxx Plaza Semanggi, saya melihat setidaknya ada sekitar 10 penonton yang ketiduran. Kedua, di CGV Blitz Paris Van Jaya Bandung, hampir separuh penonton tertidur pulas. Mereka terbangun dan gelagapan ketika lampu bioskop menyala, sehingga jadi tontonan mereka yang terjaga seperti saya.

Baiklah, sebenarnya apa sih yang salah dari Rogue One: A Star Wars Story sehingga membuatnya seperti obat tidur bagi penonton? Kalo saya pribadi sih yang bisa dibilang fanboy setengah-setengah bisa menilai film garapan sutradara Gareth Edwards ini cukup oke, meskipun nggak se-‘wah’ Star Wars original.

Menariknya, justru Rogue One: A Star Wars Story adalah sebuah prekuel yang seperti membangkitkan nostalgia, karena ada beberapa elemen pada Star Wars yang dibawa dalam film ini. Meskipun konsep cerita nggak nyambung dengan tujuh episode Star Wars yang sudah dirilis.

Hampir mirip sama Star Wars – Episode VII: The Force Awakens (2015), jagoan utama di film ini adalah seorang cewek yang bernama Jyn Erso (Felicity Jones) yang merupakan anak dari Galen Erso (Mad Mikkelsen), seorang ilmuwan Galactic Empire yang bersembunyi di sebuah lembah dan memilih hidup normal sebagai petani (?).

Sayangnya, persembunyian dia berhasil diketahui Orson Krennic (Ben Mendelsohn), petinggi Galactic Empire yang memintanya untuk kembali mengembangkan senjata super dahsyat yang bernama Death Star. Hingga satu jam ke depan, adegan demi adegan mengalir begitu lambat, hingga lumayan membutuhkan fokus yang tinggi bagi penonton buat memahami karakter yang ada.

Bagi mereka yang pernah menonton Star Wars – Episode IV: A New Hope, setidaknya akan mudah berempati pada alur cerita yang terbangun, di mana Jyn bersama teman-temannya harus menemukan denah Death Star sebelum diambil alih oleh Galactic Empire. Di bagian ini, jalan cerita semakin seru karena melibatkan adegan perang yang mengumbar tembakan laser, robot-robot ganas, senjata-senjata mutakhir.

Setelah berjalan lebih dari setengah dari keseluruhan durasi, baru dipahami bahwa sebenarnya Rogue One merupakan prekuel dari Star Wars – Episode IV: A New Hope yang merupakan film Star Wars pertama yang diputar di bioskop. Dari sini, jidat saya yang tadinya mengkerut karena “berpikir keras”, tiba-tiba langsung licin kembali.

Jyn Erso, tokoh sentral Rogue One: A Star Wars Story

Oh iya, dalam melakukan misinya tersebut, Jyn dibantu oleh beberapa orang (dan robot) yang hebat, seperti Chirrut Imwe (Donnie Yen), seorang pejuang tuna netra yang memiliki tingkat keyakinan tinggi kepada The Force, Baze Malbus (Wen Jiang) yang sedikit serampangan, Bodhi Rook (Riz Ahmed), Cassian Andor (Diego Luna), hingga K-2SO, robot yang simpatik dan punya sense of humor yang sanggup membuat penonton tertawa.

Sebagai orang yang bukan fanatik terhadap Star Wars, bisa dibilang Rogue One: A Star Wars Story bukanlah “film Star Wars” yang sesuai ekspetasi. Bisa dibilang untuk satu jam pertama kita akan disuguhkan banyak drama yang mengalir pelan dan menjadi penyebab beberapa penonton tertidur. Sisanya, kita akan disuguhkan banyak adegan peperangan yang epik dan sayang buat dilewatkan mata.

Kasarnya sih, Rogue One: A Star Wars Story nggak lebih dari sebuah “pemanasan” bagi para fanboy dalam menyambut Star Wars: Episode VIII yang bakal tayang sekitar akhir tahun ini. Sementara bagi penonton yang menonton hanya sekedar ikut-ikutan, sepertinya bakal terjebak dalam durasi panjang dengan bobot cerita yang berat, terutama bagi mereka yang memang bukan penggemar film sci-fi.

Skor: 7/10

Author: chawir

Cuma seorang penulis biasa yang dikelilingi keluarga, teman, dan alam semesta yang luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *